Sambil Menangis, Ibrahim Arief: Apa Dosa Saya untuk Indonesia?

JAKARTA, iDoPress - Eks konsultan teknologi di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Ibrahim Arief berkali-kali menangis mempertanyakan apa dosanya hingga dituntut 15 tahun penjara dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook.

“Saya tidak bisa memungkiri, kekontrasan yang ada dan tuntutan yang sangat kentara dipaksakan seperti ini, tentunya membuat saya bertanya-tanya, kenapa saya dizalimi seperti ini? Apa dosa saya terhadap Indonesia?” ujar Ibrahim saat membacakan pleidoi pribadi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Ibam, sapaan akrabnya, bercerita bahwa ia pernah menolak tawaran dari Facebook pada 2019 lalu.

Sambil terisak, Ibam menyebut bekerja di Facebook merupakan mimpinya dan ia pun sudah membayangkan kehidupannya di Inggris dengan gaji yang sangat besar.

“Waktu itu istri saya sedang mengandung anak kedua kami. Sudah terbayang oleh kami kesempatan membesarkan anak-anak kami di Inggris,” kata Ibam.

Ketika mempersiapkan keberangkatan ke Inggris, Ibam dihubungi oleh Achmad Zaky, eks bosnya di Bukalapak.

Zaky menyebutkan bahwa Nadiem Makarim yang baru dilantik menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan tengah mencari ahli teknologi yang mau membantunya.

Ibam mengaku belum kenal dengan Nadiem saat itu, tetapi ada sebuah pertanyaan yang terbersit di benaknya saat mendapatkan tawaran itu.

“Apa yang teknologi bisa lakukan langsung bagi pemerintah dan masyarakat," kata Ibam mengenang pergulatan hatinya ketika itu.

Pertanyaan ini menguat setelah Ibam menemui Nadiem untuk pertama kali pada 16 Desember 2019.

Mereka membahas kemampuan teknologi yang bisa digunakan untuk membantu pemerintah jika aplikasi yang ada berkualitas setingkat Bukalapak.

“Kualitas ini contohnya kemampuan melayani pengguna dalam jumlah jutaan dengan mudah, cepat, ringan, dan tepat guna. Saat itu banyak sekali aplikasi pemerintah yang sulit digunakan, lambat, berat, atau bahkan enggak menjawab permasalahan pengguna,” kata Ibam.

Visi misi ini membuat Ibam bertanya pada diri sendiri kraena selama bekerja di Bukalapak ia mengembangkan teknologi untuk keperluan bisnis demi memenuhi kebutuhan kelompok menengah ke atas.

Ibam kembali terisak ketika mengingat kembali visinya usai bertemu dengan Nadiem.

Ketika itu, dia mulai berpikir, apa jadinya teknologi dipakai untuk membantu masyarakat.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Jaringan Informasi Kehidupan Lokal      Hubungi kami   SiteMap