Urgensi Mengelola Kritik Keras menjadi Energi Konstruktif Bangsa

Anda bisa menjadi kolumnis !

Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Daftar di sini

Kirim artikel

Editor Ferril Dennys

MENANGGAPI dinamika terkini, kebutuhan untuk mengelola kritik keras menjadi energi konstruktif semakin mendesak.

Dalam demokrasi, kritik dengan nada tajam tidak dapat dihindari. Namun, ia tidak harus berakhir sebagai ketegangan berkepanjangan.

Di baliknya, terdapat dorongan yang sama—keinginan untuk memastikan arah perjalanan bangsa tetap berada pada jalurnya, yang pada akhirnya menjadi pengikat kepentingan bersama.

Dalam tulisan sebelumnya, saya menyatakan, kritik pedas merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi.

Kritik, betapapun keras nadanya, berfungsi sebagai mekanisme koreksi dan karena itu tidak perlu ditakuti.

Dalam perkembangannya, muncul beragam penafsiran terhadap kritik semacam itu.

Karena itu, yang lebih penting bukan lagi memperdebatkan nada kritik, melainkan bagaimana kritik dikelola agar menjadi kekuatan bersama.

Beberapa waktu lalu, sebelum dinamika terakhir ini mengemuka di ruang publik, Presiden Prabowo Subianto mengimbau semua pihak untuk bersatu dalam membangun bangsa.

Imbauan ini dapat dibaca sebagai arah moral dalam menyikapi perbedaan. Persatuan bukan keseragaman, melainkan kemampuan menempatkan perbedaan—termasuk kritik—dalam satu tujuan kebangsaan.

Masalahnya bukan pada hadirnya kritik, melainkan pada cara meresponsnya.

Di sinilah urgensinya. Waktu politik terbatas, sementara tuntutan pembangunan tidak menunggu.

Dalam rentang lima tahun yang singkat itu, ruang untuk bekerja dapat menyempit ketika energi terserap pada respons yang tidak terarah.

Ketegangan yang dibiarkan berlarut cenderung menguras energi kolektif tanpa hasil yang produktif. Posisi Presiden berdiri di atas fondasi yang kuat. Ia lahir dari proses yang sah dan konstitusional.

Pascapemilu juga memperlihatkan adanya konsolidasi dukungan dari berbagai kelompok yang sebelumnya berbeda posisi. Ini menjadi modal sosial dan politik yang penting untuk membangun sinergi.

Namun, modal tersebut tidak akan berarti tanpa kemampuan mengelola dinamika yang menyertainya.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Jaringan Informasi Kehidupan Lokal      Hubungi kami   SiteMap